October 7, 2026

kabarsula Pitaloka Milangkala ke-41, Rully Alfiady: Pitaloka Harus Tampil Unggul Dibanding Organisasi Wanita Lain bandar SLOT INDONESIA

0
IMG-20261006-WA0067.webp.webp

Peringatan Milangkala ke-41 Pitaloka AMS tersebut digelar Selasa, 6 Oktober 2026, di Kantor Sekretariat Pengurus Pusat Angkatan Muda Siliwangi (PP AMS), Jalan Braga Nomor 25B, Kota Bandung.

Ketua Umum PP AMS, Drs. Rully H. Alfiady, saat membuka kegiatan tersebut menegaskan bahwa perjalanan sebuah organisasi hingga mampu bertahan selama puluhan tahun bukanlah perkara mudah. Dinamika internal, perubahan zaman, hingga tantangan mempertahankan arah gerakan menjadi bagian yang harus dihadapi.

Gambar : Drs. Rully H. Alfiady Ketua Umum PP AMS, memberikan potongan tumpeng kepada Dr. Hj. Euis Purnama, M.M.Pd.
Ketua Umum Pengurus Pusat Pitaloka AMS.
pada Milangkala Pitaloka ke-41.

Menurut Rully, banyak organisasi mengalami kemunduran karena persoalan internal, kehilangan orientasi gerakan, maupun terjebak dalam rutinitas birokrasi. Namun, ia menilai Pitaloka justru mampu bangkit setelah mengalami masa vakum dan kembali menunjukkan eksistensinya.

“Pitaloka adalah sebuah organisasi sayap yang mampu bangkit dari masa vakum, berkonsolidasi, dan membangun daya tawar politik yang nyata,” ujar Rully.

Ia mengapresiasi kepemimpinan Ketua Umum PP Pitaloka, Dr. Hj. Euis Purnama, M.M.Pd., beserta jajaran yang dinilai berhasil menghidupkan kembali roda organisasi dan membawa Pitaloka aktif mengisi ruang-ruang publik, khususnya dalam isu-isu perempuan.

Rully berharap keberadaan Pitaloka tidak sekadar menjadi organisasi pelengkap dalam berbagai forum, tetapi mampu memberikan kontribusi dan warna tersendiri.

“Saya berharap Pitaloka bukan hanya pelengkap. Kalau hadir di KNPI jangan cuma sekadar datang untuk di-ongkosan leutik, tapi Pitaloka harus memberikan warna. Dan hari ini, Pitaloka sudah memberikan warna tersendiri,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Rully juga menyampaikan arah strategis menghadapi dinamika politik pada Pemilu 2029. Ia mengingatkan agar tidak terjadi persaingan internal antarkader AMS di daerah pemilihan (dapil) yang sama.

Menurutnya, kekuatan politik keluarga besar AMS perlu dikelola secara rasional dengan menghindari benturan antarcalon yang justru berpotensi memecah suara internal.

Ia mengusulkan agar dalam satu dapil cukup terdapat satu calon legislatif yang menjadi fokus dukungan, baik berasal dari Pitaloka, Ikatan Muda Angkatan Muda Siliwangi (IMA), maupun unsur organisasi induk AMS.

“Satu dapil cukup satu, mau Pitaloka mau IMA, supaya kita bisa fokus kekuatan kita di situ,” tegas Rully.

Selain strategi politik, Rully menekankan pentingnya penguatan struktur organisasi. Ia berharap menjelang kongres mendatang, kepengurusan Pitaloka dapat terbentuk setidaknya di 20 kabupaten/kota.

Hal tersebut, kata dia, harus dibarengi dengan sistem kaderisasi yang terencana untuk lima tahun ke depan sehingga Pitaloka tidak mengalami krisis kepemimpinan.

Rully juga mengingatkan generasi muda Pitaloka agar tetap menghargai para senior dan perintis organisasi. Menurutnya, keberadaan Pitaloka saat ini tidak terlepas dari fondasi yang dibangun para pendahulu.

“Kader muda ini tidak boleh mengabaikan penghormatan terhadap para senior dan perintis, seperti Teh Ucu dan Teh Hani, serta kepemimpinan terdahulu seperti almarhum Kang Nuri. Fondasi historis yang mereka bangun adalah alasan eksistensi Pitaloka hari ini,” ujarnya.

Gambar : Dr. Hj. Euis Purnama, M.M.Pd.
Ketua Umum Pengurus Pusat Pitaloka AMS, memberikan sambutan Milangkala Pitaloka ke-41.

Sementara itu, Ketua Umum PP Pitaloka, Dr. Hj. Euis Purnama, M.M.Pd., mengatakan usia 41 tahun menjadi momentum bagi Pitaloka untuk semakin kuat, mandiri, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Euis menegaskan bahwa identitas Pitaloka sebagai organisasi perempuan harus diterjemahkan dalam kontribusi nyata terhadap pembangunan peradaban, terutama melalui peran perempuan dalam keluarga dan pembentukan generasi bangsa.

“Pitaloka itu identik sebagai perempuan pembangun peradaban. Ini menjadi garis yang harus dijadikan pedoman, sejak kita melahirkan sampai kita membentuk anak-anak bangsa menjadi bermanfaat dan menjadi hebat,” tutur Euis.

Ia mengakui perjalanan Pitaloka selama 41 tahun tidak terlepas dari berbagai dinamika. Namun, menurutnya, setiap periode kepemimpinan telah memberikan kontribusi terhadap keberlangsungan organisasi hingga saat ini.

Euis mengajak seluruh kader untuk memperkuat kolaborasi dan membuka jejaring seluas-luasnya. Menurutnya, Pitaloka tidak dapat berjalan sendiri jika ingin berkembang lebih besar dan memberikan manfaat yang lebih luas.

“Ke depan, ayo kita bersama-sama karena Pitaloka tidak bisa berdiri sendiri. Kita harus berkolaborasi dan membuka jejaring karena ini yang bisa menguatkan kita,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa Pitaloka harus memiliki keunggulan dibandingkan organisasi perempuan lainnya dengan terus menghadirkan gagasan dan inovasi.

“Pitaloka harus bisa tampil unggul dibanding organisasi wanita yang lain. Kita harus menanamkan bahwa Pitaloka itu kreatif dan inovatif,” ujar Euis.

Sekretaris Dewan Pembina PP Pitaloka, Prof. Dr. Keri Lestari, S.Si., M.Si., Apt., yang juga Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad), menilai usia 41 tahun merupakan fase kematangan bagi sebuah organisasi.

Ia berharap kematangan tersebut dapat menjadi modal untuk mengonsolidasikan berbagai potensi yang dimiliki kader Pitaloka sehingga dapat saling mendukung dalam memajukan perempuan dan masyarakat.

Menurut Keri, nilai-nilai yang terkandung dalam konsep “Paku Sarapan” perlu terus dijiwai dan dikembangkan sebagai budaya organisasi, baik dalam pola pikir maupun pola tindakan.

“Konsep Paku Sarapan itu menjiwai sebagai corporate culture, sebagai budaya berpikir dan budaya bertindak organisasi,” katanya.

Keri menilai Pitaloka akan semakin besar apabila para anggotanya juga terus mengembangkan kapasitas dan reputasi masing-masing. Kekuatan individu tersebut, menurutnya, pada akhirnya dapat menjadi kekuatan kolektif organisasi.

“Organisasi ini akan besar karena memang anggota-anggotanya besar. Dengan anggota-anggota yang mempunyai nama besarnya masing-masing, itulah yang nanti akan turut membesarkan nama Pitaloka dan memperbesar kemanfaatan yang kita lakukan untuk masyarakat,” ujarnya.

Ia pun menyampaikan ucapan selamat atas Milangkala Pitaloka ke-41.

“Wilujeng Milangkala Pitaloka ke-41. Semoga bertambah kemanfaatan, berlimpah berkah, dan memberikan ruang yang konstruktif untuk produktivitas anggota, terutama perempuan yang ada di Pitaloka,” kata Keri.

Wakil Ketua PP Pitaloka, Dra. Mira Rosana Gnagey, M.Pd., yang juga dosen dan Wakil Dekan di Universitas Pasundan, menilai eksistensi Pitaloka selama 41 tahun menunjukkan bahwa organisasi tersebut memiliki fondasi yang kuat.

Menurut Mira, Pitaloka telah menjadi wadah positif bagi perempuan untuk berhimpun, berorganisasi, dan membangun cita-cita bersama.

“Pitaloka ini cukup solid, kuat serta positif. Wadah organisasi masyarakat perempuan seperti Pitaloka perlu diacungkan jempol. Artinya, ada sesuatu di situ yang membuat Pitaloka bisa sampai 41 tahun,” ujarnya.

Mira berharap eksistensi tersebut semakin diperlihatkan kepada masyarakat, khususnya di Kota Bandung dan Jawa Barat.

“Ini perlu diperlihatkan dan ditonjolkan lagi kepada masyarakat Kota Bandung, khususnya Jawa Barat, bahwa organisasi masyarakat itu ada yang sesolid ini, positif, dan insyaallah tetap kuat,” katanya.

Ia berharap semakin banyak perempuan di Bandung dan Jawa Barat yang bergabung dengan Pitaloka untuk membangun gerakan dan mewujudkan cita-cita bersama.

Sementara itu, Wanita Penasehat (Wanhat) PP Pitaloka, Hani Zuwinar, menyampaikan ucapan selamat atas Milangkala ke-41 Pitaloka AMS.

Hani berharap Pitaloka ke depan semakin maju dan mampu menghadapi berbagai tantangan, termasuk persaingan di ranah politik yang dinilainya semakin ketat.

“Pertama-tama saya mengucapkan selamat ulang tahun kepada Pitaloka AMS. Harapannya, semoga ke depannya lebih maju lagi. Persaingan di dunia, khususnya dunia perpolitikan, sangat ketat, apalagi bagi perempuan. Semoga sukses dan maju terus Pitaloka,” ujar Hani.

Milangkala ke-41 tersebut menjadi momentum bagi Pitaloka AMS untuk melakukan refleksi perjalanan organisasi sekaligus meneguhkan komitmen menghadapi tantangan ke depan.

Dengan penguatan kaderisasi, perluasan jejaring, kolaborasi, serta peningkatan kapasitas perempuan, Pitaloka diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan eksistensinya, tetapi juga tampil sebagai organisasi perempuan yang unggul, mandiri, inovatif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

kabarsula SLOT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *