kabarsula Telangkai, Nyawa Suasana dalam Pesta Adat Melayu Langkat yang Mulai Terlupakan bandar SLOT INDONESIA
Oleh: Muslim, S.Ag
Anggota MATAMAL Langkat/Pelaku Telangkai yang Tinggal di Tanjung Pura
AMSNews.id | Langkat — Dalam adat perkawinan Melayu, telangkai bukan sekadar seseorang yang pandai menyampaikan pantun. Lebih dari itu, telangkai memiliki peran penting dalam menghidupkan suasana hajatan, membangun komunikasi antara keluarga kedua mempelai, sekaligus menyampaikan pesan-pesan adat melalui rangkaian kata yang indah dan sarat makna.
Kehadiran telangkai menjadi salah satu warna tersendiri dalam pesta adat Melayu. Pantun yang saling bersahutan, canda yang tetap berada dalam koridor adat, serta kepiawaian merangkai kata menjadikan prosesi perkawinan terasa lebih hidup, hangat dan penuh kekeluargaan.
Namun, seiring perkembangan zaman dan semakin derasnya pengaruh budaya modern, keberadaan pelaku seni pantun dan telangkai kini mulai menghadapi ancaman keterlupaan.
Tradisi yang dahulu begitu dekat dengan setiap hajatan masyarakat Melayu, perlahan semakin jarang ditemui. Generasi muda pun tidak banyak lagi yang memahami bagaimana seorang telangkai menjalankan perannya, mulai dari membuka pembicaraan, menyampaikan pantun, menjembatani komunikasi antara kedua keluarga, hingga memastikan setiap tahapan adat berjalan sebagaimana mestinya.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian para pelaku dan pemerhati adat Melayu di Kabupaten Langkat.
Sebagai salah satu langkah untuk menjaga keberlangsungan tradisi tersebut, para telangkai adat Melayu Langkat telah membentuk wadah dan menghimpun diri melalui Majelis Telangkai Adat Melayu Langkat (MATAMAL).
Kehadiran MATAMAL diharapkan menjadi ruang bagi para telangkai untuk terus menjaga, mengembangkan dan mewariskan seni berpantun serta tata cara bertelangkai dalam adat perkawinan Melayu Langkat kepada generasi berikutnya.
Sebab, menjadi seorang telangkai tidak cukup hanya dengan kemampuan berpantun. Seorang telangkai juga dituntut memahami adat istiadat, tata krama, etika berbicara, susunan prosesi, serta nilai-nilai yang terkandung dalam setiap tahapan perkawinan Melayu.
Pantun yang disampaikan pun bukan sekadar permainan kata. Di dalamnya terkandung nasihat, penghormatan, doa, sindiran yang disampaikan secara halus, serta pesan-pesan moral untuk kedua mempelai dan seluruh keluarga.
Tradisi telangkai merupakan salah satu kekayaan budaya Melayu yang memiliki nilai sastra sekaligus adat istiadat. Dalam prosesi perkawinan, telangkai berperan sebagai penghubung sekaligus juru bicara antara pihak-pihak yang terlibat dalam rangkaian adat.
Karena itu, keberadaan MATAMAL memiliki arti penting agar tradisi tersebut tidak berhenti pada generasi sekarang.
Para telangkai senior memiliki tanggung jawab untuk menularkan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman kepada generasi muda. Sebaliknya, generasi muda juga diharapkan tidak memandang seni pantun dan telangkai sebagai sesuatu yang kuno atau ketinggalan zaman.
Justru sebaliknya, telangkai harus dipandang sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya Melayu Langkat yang patut dijaga dan dibanggakan.
Di tengah pesta perkawinan yang kini semakin banyak menghadirkan hiburan modern, telangkai sebenarnya memiliki ruang yang besar untuk menghadirkan suasana berbeda. Dengan kepiawaian berpantun dan berkomunikasi, suasana pesta yang semula biasa dapat menjadi lebih meriah, hangat, komunikatif dan tetap berakar pada nilai-nilai adat.
Pembentukan MATAMAL merupakan salah satu langkah untuk menghidupkan kembali tradisi telangkai di tengah masyarakat Melayu Langkat.
Wadah ini dapat menjadi tempat berkumpulnya para telangkai, pemerhati adat dan generasi muda untuk belajar bersama, berbagi pengalaman, mendokumentasikan tradisi, sekaligus memperkenalkan kembali seni pantun dalam berbagai kegiatan adat dan budaya.
Pelestarian pantun dan tradisi telangkai pada hakikatnya bukan hanya tentang mempertahankan sebuah kesenian. Di dalamnya terdapat upaya menjaga identitas, bahasa, sopan santun, tata krama serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh masyarakat Melayu dari generasi ke generasi.
Jika tradisi ini tidak diwariskan, bukan tidak mungkin suatu saat pesta adat Melayu masih tetap dilaksanakan, tetapi kehilangan salah satu ruh pentingnya: suara telangkai yang menyampaikan pantun dengan penuh makna.
Karena itu, telangkai tidak boleh hanya menjadi bagian dari cerita masa lalu.
Di tangan para telangkai, pemerhati adat dan MATAMAL, seni pantun Melayu Langkat diharapkan tetap hidup. Pantun tetap bersahut-sahutan di tengah majelis, telangkai tetap hadir menghidupkan suasana pesta, dan nilai-nilai adat Melayu tetap dikenal serta diwariskan kepada generasi muda.
Sebab, selama pantun masih terdengar dan telangkai masih berdiri di tengah majelis, selama itu pula denyut adat dan identitas Melayu Langkat akan tetap terasa.
kabarsula SLOT