tutup
Example 400x100
Opini

Reposisi Peran Pemuda Dalam Mengawal Pembangunan Bangsa

286
×

Reposisi Peran Pemuda Dalam Mengawal Pembangunan Bangsa

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mohtar Umasugi, Akademisi STAI Babussalam Sula

Historis Sebuah Wacana

Example 340x370

Dalam lintasan sejarah membuktikan, ibarat kata Bung Karno, “Beri Aku Satu Pemuda Maka Aku Akan Mengguncang Dunia”, pemuda dalam dinamika kehidupan masyarakat selalu memegang peranan penting di setiap transformasi sosial, mengakselerasikan dan memperjuangkan untuk meraih cita-cita dan peradaban masa depan suatu bangsa.

Di Indonesia, pemuda sebagai nafas bangsa membuktikan peranannya terhadap pembangunan peradaban bangsa, secara historis, peran pemuda tidak dapat dinafikkan dari sejarah peradaban bangsa Indonesia, sejarah dapat membuktikan dimana peran pemuda begitu dominan dalam melakukan perubahan sejarah nasional.

Dimulai dari kebangkitan nasional 100-an tahun silam, sumpah pemuda, kemerdekaan Republik Indonesia, tumbangnya orde baru yang telah berkuasa selama 32 tahun hingga lahirnya orde reformasi dan oleh pemuda gerakan generasi 1908, generasi 1928, generasi 1945, generasi 1966, generasi 1978, Era NKK/BKK, generasi 1990 dan generasi 1998. Sejarah mengatakan tanpa pemuda negeri ini tidak akan menikmati kemerdekaan dan akan terus menerus hidup dalam ketidakadilan bahkan penindasan.

Tidak hanya di Indonesia, di eropa pun sejarah membuktikan bahwa pemuda selalu menjadi transformator utama dalam setiap pergerakan dan kebangkitan suatu bangsa, misalnya kebangkitan Eropa diabad pertengahan (1789) digerakkan oleh kaum pemuda seperti, Condorcet, Olympe de Gouges, Rosseu, Montesquieu, Rene Descrates, yang menjadi penggerak utama masyarakat Eropa yang berujung dengan revolusi dan kemudian menandai zaman baru yang mengilhami bangkitnya masa renaissance (pencerahan) di Eropa. Di Rusia, Revolusi Bolsevik (Oktober 1917) menandai jatuhnya Dinasti Romanov dengan nakhodanya Tsar Nicholas II, diiringi tumpahan darah 15 juta orang selama Revolusi juga digerakkan oleh kaum muda. Namun semua itu hanyalah cerita indah dalam lembar sejarah.

Baca Juga :  Jejak Petualang Jalur Independen Pilkada Kabupaten Sula (Catatan Akademisi)

Apa Yang Dilakukan Pemuda

Berkaca dari kongres Pancasila III di Surabaya pada 31 Mei –1 Juni 2011 lalu menghasilkan gagasan untuk melibatkan pemuda sebagai subyek pengembang nilai-nilai Pancasila. Pemuda diharapkan mampu mengaktualisasikan peranannya sebagai nafas bangsa dan sebagai penerus tonggak istafet perjuangan menjaga dan membangun peradaban bangsa.

Namun sayangnya, dewasa ini para pemuda telah kehilangan jati dirinya, nilai-nilai dan karakter pemuda telah mengalami degradasi karakter yang luar biasa, pemuda dewasa ini begitu apatis dengan wawasan sumpah pemuda sehingga mereka tak mampu lagi memahami makna esensi dan aktualisasi dari sumpah pemuda yang menjadi saksi kehebatan peranan pemuda pada masa dulu.

Kini kondisi pemuda dalam keadaan yang mengenaskan, mereka lebih banyak terjebak dalam arus globalisasi dan budaya pragmatisme, sehingga terjadi kelesuan yang luar biasa dalam berbagai peranan yang mesti di ambil pemuda sebagai generasi harapan bangsa. Pemuda kini daripada memaknai dan mengaktualisasikan nilai sumpah pemuda dalam kehidupan lebih suka melakukan aksi, perkelahian, ataupun terlena dengan berbagai lagu cengeng sehingga mental pemuda menjadi beringas, kalau tidak loyo dan lebay.

Padahal masyarakat membutuhkan pemuda dalam setiap masalah dikehidupan mereka, pemuda yang akan berdiri di hadapan rakyat dari para penindas untuk pembelaan dan perjuangan aspirasi masyarakat, yang berani berjuang, berkorban dan berani mengungkapkan fakta di tengah kisauan belati, yang mampu memahami realita kehidupan yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Sehingga penting bagi pemuda untuk segera melakukan reposisi peranan dan mengembalikan formasi mereka dalam kehidupan masyarakat untuk mengakselerasikan dan membangun peradaban bangsa meraih identitas mereka kembali. Maka, di tengah keterpurukan bangsa ini, pemuda seharusnya dijadikan momentum untuk merehabilitasi dan meritalisasi nilai dan peran sumpah pemuda dalam dirinya, memaknai sumpah pemuda tidak sekedar seremonial belaka tapi lebih pada esensi dan substansinya, menumbuhkan nilai-nilai sumpah pemuda dalam diri serta mampu mengaktualisasikannya dalam konteks kehidupan nyata.

Baca Juga :  Hoegeng Award Effect: Dalam Kebijakan Bapak Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si

Maka, semua tingkah laku dan perbuatan pemuda harus dijiwai dengan sepenuhnya dan merupakan hasil pancaran dari sumpah pemuda, pemuda tak selayaknya terus terbuai dan tereuforia dengan segala catatan gemilang pemuda dalam lembar sejarah, akan tetapi sudah saatnya pemuda kembali mengukir sejarah sebagaimana yang telah ditorehkan para generasi pemuda dulu, mengukir sejara gemilang di tengah bangsa yang tengah merindukan tegaknya supremasi hukum, merindukan subtansi kemerdekaan bangsa yang nyata.

Reposisi Peran Pemuda

Melebihi dugaan semula para ahli, krisis multidimensional yang mendera Indonsia saat ini bukanlah sembarang krisis yang bisa dihadapi secara tambal sulam. Krisis ini begitu luas cakupannya dan dalam penetrasinya, menyerupai zaman peralihan, dalam gambaran Karel Amstrong (2006). zaman jahiliyah yang penuh prahara, pertikaian, kedunguan, kehancuran tata nilai dan keteladanan. Kegelisahan muncul dimana-mana.

Disesalkan para elit politik yang mestinya sibuk bekerja keras untuk menyelesaikan masalah, malah ingkar dari perannya sehingga memperparah keadaan. Begitupun dengan kaum muda, yang katanya agent of change, tapi malah sibuk dalam hiruk-pikuk yang tak menentu. Dalam kondisi ini dimana sesungguhnya peran mereka yang katanya harapan bangsa? Apakah hanya sekedar menjadi penonton pada babak baru penderitaan bangsa ini?

Mengutip Pramudya Ananta, bahwa pemuda bukan hanya sekedar umur, tapi juga gagasan yang progresif, radikal dan militan. Sehingga ia mampu menjadi motor serta lokomotif perubahan yang akan diusung. Bercermin dari sejarah perjuangan generasi muda masa lalu, mereka adalah orang-orang yang punya semangat juang yang bermodalkan kesadaran bahwa hidup dalam keadaan tertindas.

Kondisi sulit ini justru membangkitkan semangat sehingga begitu banyak agenda-agenda perubahan yang mereka toreh buat bangsa ini, seperti; Sumpah Pemuda 1928, Pancasila dan UUD 1945, Tritura 1966, dan terkini agenda reformasi 1998 yang belum pernah usai. Dan semua ini dilakukan bukan hanya dengan tenaga, waktu dan pikiran semata, akan tetapi juga dengan tetesan darah dan segenap jiwa raga demi terwujudnya sebuah bangsa yang merdeka dan beradab.

Baca Juga :  Haus Kekuasaan

Menyakini perjuangan itu masih menyisakan pekerjaan rumah yang rumit dan panjang, tentu secara moral merupakan kewajiban yang tak terelakkan bagi setiap pemuda dengan senantiasa ber-ijtihat dan ber-jihat dalam usaha ikut serta memecahkan persoalan yang masih membelenggu negeri ini. Kemelut yang sedemikian panjang, tiap harinya kita disuguhkan dengan prilaku para elit dan penguasa yang sedang berlomba-lomba mengkhianati negerinya.

Example 350x255 Example 350x255

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *