tutup
Example 330x340
IMG_20240311_233148
IMG_20240311_233148
previous arrow
next arrow
ArtikelOpini

Haus Kekuasaan

2997
×

Haus Kekuasaan

Sebarkan artikel ini
Haus Kekuasaan
Foto: Safari Fadil Naipon

Oleh: Safari Fadil Naipon

Kekuasaan bagaikan magnet yang menarik berbagai pihak. Tak jarang, demi meraihnya, berbagai cara ditempuh, termasuk yang tidak terhormat. Kecurangan menjadi alat yang digunakan untuk menyingkirkan lawan dan melicinkan jalan menuju kursi kekuasaan.

Example 360x630

Praktek kecurangan dalam meraih kekuasaan bukanlah hal baru. Sejarah mencatat berbagai contoh, mulai dari suap, manipulasi suara, hingga kampanye hitam. Di era modern, kecurangan semakin canggih dengan memanfaatkan teknologi informasi dan media sosial.

Munculnya politik uang, misalnya, menjadi bukti nyata bahwa haus kekuasaan telah mengaburkan moralitas. Politikus rela merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli suara rakyat, demi menduduki kursi yang diimpikan.

Manipulasi suara pun masih marak terjadi, baik melalui perjokian data pemilih, pencoblosan ganda, maupun perhitungan suara yang tidak transparan. Kepercayaan publik terhadap proses demokrasi pun tercoreng.

Kampanye hitam juga menjadi senjata ampuh untuk menjatuhkan lawan. Fitnah, hoax, dan propaganda dihembuskan untuk merusak citra lawan dan memanipulasi opini publik. Tak jarang, sentimen politik menjadi alat yang digunakan untuk memecah belah keluarga.

Haus kekuasaan telah melahirkan mentalitas “menang-kalah”. Demi mencapai tujuan, nilai-nilai moral dan etika diabaikan. Integritas dan kejujuran menjadi korban.

Dampak dari praktek kecurangan ini sangatlah besar. Demokrasi menjadi tercederai, dan rakyat kehilangan kepercayaan terhadap wakilnya yang ada di parlemen. Kesenjangan sosial dan politik semakin lebar, dan stabilitas negeri ini bakal terancam.

Tabiat para pengejar kuasa, tampaknya lembut namun beringas, sebab khawatir tidak mendapatkan posisi yang diinginkan sejak semula. Namun, pada komunikasi publik, menampakkan dirinya seakan tidak akan merebut kekuasaan tersebut. Tampak alim, santun, sopan, dan merendah. Seakan-akan hendak memberikan kesempatan kepada orang lain.

Tekanan Penguasa, Intimidasi Hak Politik Rakyat

Baca Juga :  7 Tokoh ini Digadang-gadang Maju Bupati dan Wakil Kepulauan Sula
Example 460x630

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *