kabarsula Bentrokan Berdarah Pecah di Setokok, 2 Orang Tewas dan 7 Luka-luka bandar SLOT INDONESIA
Gabar tangkapan layar aksi berdarah di setokok. Senin, 14/9/2026.
AMSNews.id | Batam – Bentrokan antarkelompok terjadi di wilayah Setokok, Kota Batam. Peristiwa tersebut menyebabkan dua orang meninggal dunia dan tujuh lainnya mengalami luka-luka.(14/9/2026)
Dua korban meninggal dunia diketahui bernama Edi Palue dan Heri. Berdasarkan informasi sementara, Edi Palue mengalami luka pada bagian dada kiri, sementara Heri mengalami luka pada bagian perut di sekitar ulu hati.
Sejumlah korban luka kemudian mendapatkan perawatan di sejumlah rumah sakit di Kota Batam.
Di RS Budi Kemuliaan, dua korban yakni Stenli dan Karli menjalani perawatan. Stenli mengalami luka pada bagian punggung, sedangkan Karli mengalami luka pada bagian samping perut.
Sementara itu, tiga korban lainnya, Robet, Coki dan Edi Kecil, dirawat di RS Awal Bros Batu Aji. Robet dilaporkan mengalami luka yang diduga akibat tembakan.
Korban lainnya, Bastian Langoday, yang sempat mendapat perawatan di RS Budi Kemuliaan kemudian dipindahkan ke RS Embung Fatimah untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Pasca bentrokan, aparat keamanan diterjunkan ke lokasi untuk mengendalikan situasi dan mencegah terjadinya bentrokan susulan. Polisi juga melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengumpulkan keterangan saksi serta mengamankan barang bukti yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Kapolresta Barelang Kombes Pol Anggoro Wicaksono mengatakan dalam keterangan tertulisnya, Senin, 14/9/2026, bentrokan tersebut diduga dipicu konflik lahan yang telah berlangsung cukup lama.
Menurut Anggoro, persoalan tersebut sebelumnya telah beberapa kali diupayakan penyelesaiannya melalui mediasi, baik oleh Polsek Bulang, Polresta Barelang maupun Polda Kepulauan Riau.
Namun, persoalan tersebut kembali memanas hingga berujung pada aksi penyerangan yang diduga melibatkan dua kelompok.
“Data sementara ada dua orang meninggal dunia dan tujuh orang mengalami luka-luka,” kata Anggoro.
Terkait informasi mengenai penggunaan senjata api, Anggoro menyebut hasil penyelidikan awal mengarah pada dugaan penggunaan senjata angin, bukan senjata api.
Meski demikian, kepolisian masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk melalui visum dan autopsi, untuk memastikan secara ilmiah penyebab kematian serta jenis luka yang dialami para korban.
Dalam proses penyelidikan, sekitar enam orang telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan. Polisi masih mendalami peran masing-masing pihak serta melakukan pengembangan untuk mengungkap rangkaian kejadian secara menyeluruh.
Anggoro juga menegaskan perkara tersebut berkaitan dengan konflik lahan dan tidak berhubungan dengan persoalan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).
“Ini persoalan konflik lahan, bukan persoalan SARA,” ujarnya.
Polresta Barelang bersama Polda Kepri, dengan dukungan personel TNI, masih melakukan pengamanan di lokasi sekaligus penyelidikan terhadap perkara tersebut.
Kepolisian memastikan proses hukum akan dilakukan secara profesional dan objektif terhadap pihak-pihak yang nantinya terbukti terlibat.
Di sisi lain, Eduard Kamaleng meminta kepolisian mengambil tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang dinilai dapat kembali memicu ketegangan.
Eduard mengatakan permintaan tersebut telah disampaikannya kepada pihak kepolisian. Dia juga mengaku akan menyampaikan langsung kepada Kapolresta Barelang terkait seseorang bernama Suherman.
“Di dalam tadi sudah kami sampaikan kepada pihak kepolisian. Saya juga nanti sampaikan kepada Pak Kapolres, agar satu-satunya namanya Suherman agar ditangkap malam ini,” ujar Eduard. Senin, 14/9/2026.
Pernyataan tersebut merupakan permintaan dari pihak Eduard dan bukan berarti Suherman telah dinyatakan sebagai tersangka atau terbukti melakukan tindak pidana.
Penentuan status hukum dan keterlibatan seseorang merupakan kewenangan aparat penegak hukum berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan.
Sementara itu, perhatian juga muncul terhadap sebuah unggahan di media sosial akun @suherman_langlaut yang menampilkan video dengan judul “Kaum Puak Melayu Bersatu”.
Unggahan tersebut menjadi bahan pembicaraan di tengah masyarakat karena memuat seruan yang membawa identitas Melayu dalam konteks situasi di Setokok.
Dalam video tersebut, Suherman terdengar menyerukan agar masyarakat Melayu bersatu dan bergerak bersama.
“Sebagai orang Melayu tentunya kita harus tegak satu komando dan melibatkan kawan-kawan yang lain. Hari ini kita turun kembali menjaga alam kita, mengawal kita, menjaga kampung kita,” ujar Suherman dalam video tersebut.
Namun, keberadaan unggahan tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya keterkaitan antara identitas SARA dengan bentrokan. Terlebih, Kapolresta Barelang telah menegaskan bahwa perkara tersebut berkaitan dengan konflik lahan dan tidak terkait persoalan SARA.
AMSNews.id juga belum memperoleh keterangan langsung dari Suherman terkait maksud dan konteks pernyataannya dalam video tersebut, termasuk mengenai kaitannya dengan konflik lahan yang terjadi di Setokok.
AMSNews.id masih berupaya meminta konfirmasi kepada Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam dan LAM Kepulauan Riau untuk memperoleh pandangan serta penjelasan mengenai penggunaan narasi identitas Melayu dalam situasi tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, aparat keamanan masih melakukan pengamanan di lokasi dan kepolisian masih mendalami kasus tersebut.
AMSNews.id akan memperbarui pemberitaan apabila terdapat informasi resmi maupun klarifikasi dari pihak-pihak terkait.
kabarsula SLOT